Selamat Datang di Blog Edukasi Suparmin, SMA Negeri 1 Pallangga, Gowa, Sulawesi Selatan

Kamis, 23 Mei 2013

Makna Kata


1.     Pengertian
Dalam KBBI edisi ke-4, makna berarti arti, maksud pembicara atau penulis; pengertian yang diberikan kepada suatu bentuk kebahasaan. Makna kata berarti maksud atau arti suatu kata atau isi suatu pembicaraan. Untuk mengetahui makna kata secara pasti dan benar, maka dapat dicari dalam kamus. Namun demikian, ada pula kata yang mengalami perubahan makna karena adanya situasi yang memengaruhi.
2.     Makna Leksikal dan Gramatikal
Pembedaan kedua jenis makna tersebut berdasarkan ada atau tidak adanya perubahan bentuk kata.
·         Leksikal adalah bentuk ajektif yang diturunkan dari bentuk nomina leksikon. Makna leksikal adalah makna suatu kata yang belum mengalami proses perubahan bentuk. Istilah lain untuk menyebutnya adalah makna sesuai dengan kamus. Makna sesuai dengan penglihatan. Dikatakan pula bahwa makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Secara singkat dapat dikatakan bahwa semua kata dasar pasti bermakna secara leksikal. Makna leksikal ini dapat diketahui tanpa melihatnya dalam kalimat.
Contoh : rumah (tempat tinggal)
  ayam (binatang berkaki dua)
  tikus (tikus itu dimakan kucing)
·        
Makna gramatikal adalah makna suatu kata setelah kata tersebut mengalami proses gramatikalisasi (kebahasaan). Adapun perubahan gramatikal tersebut adalah
ü  Pengimbuhan
Contoh : ber + main = bermain
ü  Pengulangan
Contoh : rumah = rumah-rumah
ü  Pemajemukan
Contoh : kaca dan mata = kacamata
ü  Intonasi
Contoh : Agus pergi.                        Agus pergi?
ü  Urutan kata
Contoh : Sinar dipukul Asma.
               Asma dipukul Sinar.
ü  Kata tugas
Contoh : Bojes makan dan minum di sini.
              Bojes makan atau minum di sini.
Makna gramatikal suatu kata bisa sama, berubah, atau bahkan berbeda dengan makna leksikalnya. Struktur kalimat sangat memengaruhi makna gramatikal tersebut. Oleh karena itu, makna gramatikal sering juga disebut makna struktural atau makna situasional. Makna struktural karena proses dan satuan gramatikal itu selalu berkenaan dengan struktur kebahasaan.
Contoh:
Jenis Makna
Contoh kata
Leksikal
  main
Gramatikal
- mainan
- main-mainan
- bermain-main
- memainkan
- permainan

3.     Makna Denotatif dan Makna Konotatif
Makna ini diklasifikasikan berdasarkan ada tidaknya perubahan makna pada kata dasar suatu kata. Apabila kata dasar tersebut tidak ada perubahan makna maka kata tersebut bermakna denotasi atau denotatif. Sering juga disebut makna denotasional, makna konseptual, atau makna kognitif karena dilihat dari sudut yang lain pada dasarnya sama dengan makna referensial sebab makna denotatif ini lazim diberi penjelasan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, atau pengalaman lainnya. Makna denotasi sering juga disebut makna asli atau makna bukan kias. Sebaliknya apabila kata tersebut mengalami perubahan makna maka disebut makna konotatif. Makna konotatif sering juga disebut makna kias.
      Makna konotasi adalah makna yang berdasarkan perasaan, pikiran seseorang. Kata disebut mempunyai makna konotatif apabila kata tersebut mempunyai nilai rasa, baik positif maupun negatif. Perubahan makna tersebut dapat berupa perbandingan dan pengiasan dengan benda atau hal lainnya. Terkadang makna konotasi ini dapat diketahui ketika kata tersebut telah tergabung dalam kalimat. Olehnya itu, makna konotasi sering juga disebut makna kontekstual.
Contoh:
Jenis Makna
Contoh Kata
Makna Kata
Denotasi
1.     mata Amir
2.     mata kucing
3.     termangu
mata yang dimiliki oleh Amir.
mata yang dimiliki oleh kucing.
terdiam
Konotasi
1.     mata keranjang
2.     mata baut
3.     mata air


4.     termangu
Suka melirik ke sana ke mari.
Mata yang terpasang pada baut.
Tempat bermuaranya/keluarnya air. Biasanya di atas gunung atau tempat-tempat tertentu.
Kekosongan jiwa

4.     Hubungan/Relasi Makna
a.     Makna  Umum dan  Makna Khusus
Dalam hubungan antarkata, ternyata ada kata yang memiliki hubungan secara bertingkat atau gradual. Suatu kata merupakan anggota dari kata-kata lainnya; sebaliknya suatu kata membawahi kata-kata yang lain.



Contoh:                        
                                                batu berharga


 
                        Intan                 permata                        berlian

                                                Hewan


 


                        Kuda                kelinci                           burung

b.    Sinonim
Secara etimologi kata sinonimi berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu onoma yang berarti ‘nama’, dan syn yang berarti sama dengan. Secara harfiah sinonim atau sinonimi berarti ‘nama lain untuk benda atau hal yang sama. Secara semantik Verhaar (1978) mendefinisikan sebagai ungkapan (bisa berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain.
Contoh:
Kata
Sinonim
jelek
buruk
pintar
pandai
cantik
jelita
bunga
kembang, puspa
meninggal
mati, wafat, tewas, mampus, mangkat.
abadi
kekal, langgeng, selamanya
absent
bolos, mangkir
arif
bijaksana, berilmu, terpelajar, cendekia

Hubungan makna antara dua kata yang bersinonim bersifat dua arah. Jadi, kalau kata bunga bersinonim dengan kata kembang, maka kata kembang juga bersinonim dengan kata bunga. Tetapi perlu diingat bahwa sinonim bukanlah bahwa makna kata seratus persen sama. Makna kata terkadang hanya memiliki kemiripan makna. Terkadang penggunaannya dalam kalimat tidak bisa saling menggantikan.
Contoh:
-       Tikus itu mati diterkan kucing. (benar)
-       Tikus itu meninggal diterkam kucing. (salah)
-       Tikus itu wafat diterkam kucing (salah)
Ketidakmungkinan kita menukar sebuah kata dengan kata lain yang bersinonim disebabkan oleh banyak hal. Antara lain sebagai berikut:
·         Faktor waktu. Misalnya kata hulubalang bersinonim dengan kata komandan. Namun, keduanya tidak mungkin dipertukarkan karena kata hulubalang hanya cocok untuk situasi kuno, klasik, atau arkais. Sedangkan kata komandan hanya cocok untuk situasi saat ini.
·         Faktor tempat atau daerah. Misalnya kata saya dan beta adalah bersinonim. Tetapi kata beta hanya cocok digunakan di daerah Maluku, sedangkan kata saya dapat digunakan di mana saja.
·         Faktor sosial.  Misalnya kata aku dan saya adalah kata yang bersinonim. Tetapi, kata aku hanya dapat digunakan untuk orang yang sebaya dan tidak bisa digunakan untuk orang tua atau yang lebih tinggi status sosialnya.
·         Faktor bidang kegiatan. Misalnya kata tasauf, kebatinan, dan mistik adalah tiga kata yang bersinonim. Namun, kata tasauf hanya lazim digunakan dalam agama islam; kata kebatinan untuk yang bukan islam; kata mistik dapat digunakan secara umum.
·         Faktor nuansa makna. Misalnya kata melihat, melirik, melotot, memandang adalah kata yang bersinonim. Kata melihat memang bisa digunakan secara umum, tetapi tidak dengan kata yang lainnya.               
c.     Antonim
Kata antonimi berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma yang artinya ‘nama’ dan anti atau ant yang artinya ‘melawan’. Secara harfiah antonim berarti nama lain untuk benda lain pula. Antonim kemudian diartikan sebagai kata-kata yang berbeda atau berlawanan maknanya.
            Hubungan makna antara dua buah kata yang beratonim sifatnya dua arah. Walaupun demikian antonim sama halnya dengan sinonim tidak bersifat mutlak. Antonim juga disebut oposisi makna.
Contoh:
Kata
Antonim
bagus
buruk
besar
kecil
membeli
menjual
siang
malam
hidup
mati
hitam
putih
belum
sudah
aman
kacau
hulu
hilir
lentur
kaku
kaya
miskin

Jenis-jenis antonim, yaitu:
·         Antonim mutlak
Antonim mutlak berarti dua buah kata berlawanan makna secara mutlak.
Contoh : hidup X mati
              gerak X diam
·         Antonim Kutub
Pertentangan pada antonim kutub ini tidak bersifat mutlak, melainkan bersifat gradasi. Artinya, terdapat tingkat-tingkat makna pada kata-kata tersebut.
Contoh : kaya X miskin
              besar X kecil
             panjang X pendek
Pada umumnya kata-kata yang berantonim kutub ini berasal dari jenis kata ajektif (sifat)
·         Antonim hubungan
Makna kata yang beratonim secara hubungan (relasional) ini bersifat saling melengkapi. Artinya, kehadiran kata yang satu karena ada kata yang lain yang menjadi oposisinya.
Contoh :  pasang X surut                    belajar X mengajar
               pulang X pergi                     atas X bawah
               suami  X istri                        guru X murid
·         Antonim hirarkial
Makna kata yang berantonim hirarkial ini menyatakan suatu deret jenjang atau tingkatan. Oleh karena itu, kata-kata yang berantonim hirarkial ini adalah kata yang berupa nama satuan ukuran (panjang, berat, dan isi), nama satuan hitungan dan penanggalan, nama jenjang kepangkatan dan sebagainya.
Contoh :  meter   x  kilometer
               liter      x  kilogram
               kuintal  x  bon
·         Antonim majemuk
Antonim majemuk adalah perlawanan makna kata yang bukan hanya satu lawan satu kata, tetapi sebuah kata yang mungkin saja memiliki banyak antonim.
Contoh : berdiri X duduk
                            berbaring
                            tiarap
                            berjongkok
Suatu hal yang perlu diketahui bahwa tidak semua kata memiliki antonim. Misalnya, kata rumput dan mobil tidak memiliki antonim. Begitupun dengan banyak kata yang lain.


d.    Homonim
Homonim juga berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu onoma yang artinya ‘nama’ dan homo yang artinya ‘sama’. Dalam ilmu bahasa, istilah tersebut diartikan sebagai kata-kata yang bentuk dan cara pelafalannya sama, tetapi maknanya berbeda.
Contoh I :  Karena krisis ekonomi, negara ini sangat   genting.
                Genting rumahnya berhamburan diterjang   angin.
     Dia bisa menyelesaikan soal tersebut dengan  cepat.
                  Bisa ular tersebut telah menyebar dalam peredaran darahnya.
Contoh II:          
Kata
Makna
pacar
kekasih
inai
baku
bahan baku
standar
bandar
pelabuhan
parit
pemegang uang dalam perjudian
adat
aturan
mogok
efek
akibat
surat berharga
iris
selaput pada mata
potong kecil-kecil

e.     Homograf
Homograf adalah dua buah kata yang memiliki penulisan yang sama, tetapi ejaan dan maknanya berbeda.



Contoh:
Kata
Makna
teras
penting atau inti
bagian depan rumah
apel
sejenis buah
upacara
kencan
sedan
tangisan sedu
sejenis mobil penumpang

f.      Homofon
Homofon terdiri atas dua kata, yaitu homo yang berati ‘sama’ dan fon yang berati ‘bunyi’. Dalam perkembangannya homofon diartikan dua buah kata atau lebih yang memiliki penulisan yang berbeda, bunyi yang sama/hampir sama, tetapi memiliki makna yang berbeda.
                        Contoh:
Kata
makna
bang
bank
kakak
lembaga yang mengurus uang
sangsi
sanksi
ragu, meragukan
hukuman, konsekuensi
masa
massa
waktu
masyarakat banyak

                      Cara Cepat
Hubungan Makna
Pelafalan
Penulisan
Makna
Sinonim
berbeda
berbeda
sama/hampir sama
Antonim
berbeda
berbeda
berbeda
Homofon
sama
berbeda
berbeda
Homograf
berbeda
sama
berbeda
Homonim
sama
sama
berbeda

g.    Polisemi
Polisemi berasal dari kata poly dan sema, yang berarti ‘banyak’ dan ‘tanda’. Jadi, polisemi adalah suatu kata yang memiliki banyak makna.
Contoh I : kata kepala pada kalimat:
1)     Penulisan surat dimulai dengan kepala surat. (bagian paling atas dari surat)
2)     Kepala kantor marah karena perbuatan Sudir. (pemimpin)
3)     Kepala-nya berdarah setelah tersebetur di batu. (bagian kepala/atas manusia)
Contoh II : sakit pada kalimat
1)     Karena sakit, dia tidak datang hari ini.
2)     Akibat krisis global, banyak perusahaan yang sakit.
3)     Sule sakit hati karena nilanya sangat rendah.
h.    Hiponimi
Hiponimi juga berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu onoma yang berarti ‘nama’ dan hypo yang berarti ‘di bawah’. Secara harfiah dikatakan bahwa nama yang yang termasuk di bawah nama lain. Verhar (1978: 13) menyatakan hiponim ialah ungkapan (biasanya berupa kata, tetapi dapat juga berupa frase atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna suatu ungkapan lain.
Contoh :
         Ikan
 


            bandeng           mujair               tenggiri             cakalang

Kata bandeng, mujair, tenggiri, dan cakalang adalah hiponim dari kata ikan tersebut. Hiponim juga sering disebut kata yang bermakna khusus atau subordinat.
i.      Hipernimi
Hipernimi adalah kebalikan dari istilah hiponim. Hipernimi diartikan sebagai kata yang mencakup makna kata lain. Jadi, pada contoh bagian hiponim, kata ikan adalah hipernim dari kata bandeng, mujair, tenggiri, dan cakalang. Sering juga diistilahkan bahwa hipernim adalah kata umum atau superordinat.
j.      Kohiponimi
Kohiponimi berarti hubungan antara hiponim yang satu dengan hiponim yang lain. Misalnya, hubungan antara bandeng, tenggiri, dan cakalang merupakan kohiponim dari hiponim terhadap kata ikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar


Try Relay: the free SMS and picture text app for iPhone.