Selamat Datang di Blog Edukasi Suparmin, SMA Negeri 1 Pallangga, Gowa, Sulawesi Selatan

Selasa, 05 Mei 2020

Filosofi Hidup pada Benda yang Jarang Disentuh selama Covid-19


Kisah tentang Covid-19 tidak pernah berakhir. Mungkin kisahnya akan berakhir setelah pagebluk ini benar-benar sirna di permukaan bumi. Atau jangan-jangan Covid-19 akan bermutasi dengan jenis baru lalu disebut pascacovid atau Covid-20. He.he...jangan sampai ya. Mari terus berdoa dan tetap tinggal di rumah. Kali ini kita akan berbagi bukan persoalan keseriusan pandemi ini dan bukan upaya memutus mata rantainya. Apalagi berdebat tentang mudik dan pulang kampung. Yuk, sedikit rehat dengan menelisik benda-benda penting di rumah kita yang jarang tersentuh atau bahkan mungkin tidak pernah tersentuh selama kita tinggal di rumah saat ini. Ini sifatnya relatif ya, saya hanya berbagi berdasarkan pengalaman. Kisah ini juga memberikan pesan kepada kita untuk merefleksi diri agar tidak merasa begitu penting dalam sebuah komunitas, kelompok kerja, atau perkumpulan apa pun namanya. Kali ini mungkin kita begitu dibutuhkan. Ide-ide yang kita sampaikan akan didengar oleh orang lain. Orang-orang selalu memberikan jempol terhadap ide dan kerja-kerja kita. Atau bahkan, kantor tempat kita bekerja tidak berani mengambil keputusan sebelum diri kita memberi saran dan masukan. Akan tetapi, kita harus sadar dan paham, semua itu tidak berlangsung selamanya. Ada kalanya kita tidak lagi dibutuhkan. Atau waktu-waktu tertentu, kita akan istirahat dan nanti akan muncul kembali pada situasi yang lain. Atau bahkan kita akan dirumahkan atau di-PHK, istilah lebih keren dari kata dipecat. Tapi, di lain waktu sebuah kantor atau pekerjaan lain akan memunculkan kembali diri kita bak mutiara yang lama terpendam. Nah, yuk, mengambil pelajaran hidup dari benda-benda penting berikut yang kita abaikan dalam masa pembatasan sosial ini. Apa saja dan  apa pesan hidup yang dapat kita petik?
1    Setrika
Kita-kita yang bekerja di kantor ada tidak yang tidak memiliki setrika di rumahnya. Lalu, coba sekarang perhatikan. Di mana setrika Aanda letakkan. Benda yang satu ini, sebelum masa pandemi, menjadi barang yang sangat dibutuhkan. Setiap hari membantu kita untuk memaksimalkan penampilan dengan menghaluskan pakaian kita. Bahkan, ada kawan saya yang selalu membawa setrika di atas mobilnya. Setrika itu akan ikut ke mana saja dia pergi. Sekarang, saya secara pribadi sudah hampir dua bulan tidak pernah memegang gagang setrika. Bahkan, saban waktu benda ini menjadi mainan mobil-mobilan sang anak. Mmmm, sekali lagi ingat diri kita ya. Jangan pernah merasa begitu berarti dalam sebuah komunitas. Posisikan diri kita sebagai pelengkap yang saling membutuhkan dalam situasi yang berbeda-beda. Bisa saja hari ini kita begitu berarti terhadap hidup orang lain, tapi siap-siap di lain waktu untuk dicampakkan
Sepatu kerja
Benda yang kedua ini bagaimana kabarnya di rumah Anda? Apakah masih kinclong dan setiap hari Anda menyemirnya? Betapa banyak di antara kita yang memiliki sepatu kantor lebih dari dua. Bahkan ada yang memilikinya lebih dari sepuluh. Senin lain, Selasa, lain, lain hari lain sepatu. Atau bahkan ada yang lain waktu lain sepatu. Pagi lain, siang lain,sore dan malam merek lain dan model lain lagi. Sekali lagi, saya secara pribadi, sepatu kerja itu sedang tidur manis di atas mobil dan di rak sepatu. Maklum, hanya dua pasang. Saban hari, saya tersenyum melihatnya. Mungkin sepatu itu terbuai mimpi dan merasa keenakan karena tidak pernah lagi terinjak diinjakkan di mana saja kita mau.
Nah, kita, jika berposisi memiliki bawahan, pahamilah. Sekali-kali berikan mereka waktu untuk menikmati hidupnya. Bawahan adalah mitra kerja kita. Dia akan sangat berfungsi sesuai dengan pekerjaan yang Anda berikan kepada mereka. Perlakukan mereka dengan baik sebagai mitra kerja.
Jam tangan
Ketika menuliskan bagian ketiga ini, saya menanyakannya kepada istri. Dia lalu tersenyum. “Ada kok orang yang biar di rumah suka memakai jam tangan!”, katanya. Iya juga sih! Akan tetapi, sekali lagi, ini secara umum, tidak berbicara perorangan. Coba kita ingat. Sebelum Covid-19 ini memutus aktivitas sosial kita, berapa kali kita mesti memutar kendaraan lalu kembali ke rumah hanya gegara lupa memakai jam tangan. Lalu sekarang di mana Anda menyimpannya? Di atas lemari? Di laci? Di dasbor mobil? Di dalam tas kerja? Atau jangan-jangan pada saat membaca tulisan ini, Anda lupa di mana menyimpan jam tangan yang begitu penting sebelum Covid-19 memaksa kita untuk tetap di rumah.
Begitulah sebagian watak manusia. Memperhatikan jika butuh, lalu melupakan jika tak membutuhkan. Secara hakikat, iya, hubungan itu terjadi karena saling membutuhkan. Tetapi, mestinya saling membutuhkan itu tidak boleh dimaknai secara pragmatis. Manusia mestinya menjalin sosial tanpa dasar saya dapat apa dan Anda kebagian apa.
      Pakaian kantor
Apakah kantor Anda mewajibkan memakai pakaian kantor jika melaksanakan meeting secara virtual? Atau jika Anda pendidik, apakah mewajibkan peserta didik Anda menggunakan pakaian sekolah jika proses belajar dari rumah Anda lakukan? Saya baca di media, sebuah sekolah di Amerika Serikat menerapkannya. Peserta didik mereka setiap hari wajib menggunakan seragam sekolah ketika proses pembelajaran secara daring dilaksanakan. Tapi, sekali lagi, hanya beberapa instansi yamg menerapkannya. Di antara kita lebih banyak yang melipat rapi pakaian kantornya lalu menyimpan dengan wewangian di dalam lemari. Sesekali telisik ya, jangan sampai menjadi sarang tikus lalau Anda kelabakan ketika masa bekerja dari rumah sudah berakhir.
Lalu apa filosofinya untuk kita? Sederhananya, kita mesti sadar bahwa seragam tidaklah menjadi prasyarat utama sebuah proses kerja dapat dilaksanakan. Pernah membaca diskusi panas di media sosial ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, menggunakan pakaian yang dianggap santai ketika menghadiri pelantikan seorang rektor? Bahkan, Mantan Ketua DPR RI, Marzuki Alie pun  menyoroti gaya berpakaian sang menteri yang hanya menggunakan baju batik berwarna biru yang lengannya digulung ke atas, celana seperti jeans dan sepatu tanpa kaos kaki. Tidak perlu saya lanjutkan. Cukuplah itu menjadi dasar. Siapa Nadiem Makariem saat ini, bagiamana kariernya dan saksikanlah bagaimana dia begitu nyaman dengan gaya berpakaiannya.
5    Alat-alat perawatan wanita
Ini hanyalah persepsi. Juga tidak mengenai semua perempuan. Toh, begitu banyak perempuan saat ini yang lebih memilih tampil apa adanya. Tapi, saya yakin, lebih banyak lagi perempuan yang tidak berani keluar rumah sebelum mendandani tubuh mereka dengan berbagai macam make up. Mulai dari rambut hingga ujung kaki. Bagian tubuh yang paling banyak tersentuh benda ini adalah wajah. Cermin biasanya menjadi benda yang paling menyita waktu di pagi hari bagi perempuan. Bahkan, terkadang ketika ada peserta didik saya yang terlambat, lalu saya tanya alasannya. Sederhana, dia balik karena lupa memasukkan alat make up ke dalam tasnya. Wow, betapa benda ini menjadi barang yang sangat penting bagi perempuan di saat keluar rumah. Lalu sekarang, masihkanh Anda ingin sibuk di pagi hari dengan hati-hati menarik dan melukis bibir Anda dengan gincu? Lalu masihkan Anda setia kala matahari belum muncul melukis dan meliukkan alis dengan alat khusus? Masihkah Anda setiap saat memandang wajah di cermin lalu menghitung flek hitam yang muncul di sana dan berusaha sekuat tenaga unuk mengilangkan atau paling tidak menyamarkannya? Mmmmm, jika iya, berarti Anda memang perempuan pesolek sejati. Jika tidak, yuk mari mengambil hikmah. Mari memandang wajah Anda masing-masing. Seberapa perbedaan yang muncul ketika tampil secara alami dan tampil maksimal dengan make up. Jika natural itu lebih baik, maka belajarlah dari pandemi ini. Jika alis itu terlihat indah tanpa dilukis, biarkanlah dia seperti itu. Toh, Tuhan telah mencipatakan kita dengan begitu sempurna. Ingatlah pesan para guru kita, kecantikan hakiki ada di dalam hati. Bukankah jeruk yang berkulit tak menarik dan penuh bintik belum tentu kecut? Dan tidak ada jaminan jeruk yang berkulit mulus dan bercahaya menawarkan rasa manis kepada kita.

Terima kasih, selalu belajar dari Covid.

Senin, 06 April 2020

Gerakan ASN untuk Covid-19


Covid-19 telah memorak-porandakan seluruh rencana di negeri ini. Baik rencana yang telah disusun oleh pemerintah maupun rencana yang disusun oleh individu. Perekonomian yang telah dirumuskan matang-matang mengalami jalan buntu. Pembangunan yang telah disepakati harus dikaji ulang. Rencana pemindahan ibu kota negara yang desainnya telah diumumkan ke publik pun hingga kini semakin tidak jelas. Khusus di bidang pendidikan, beberapa kebijakan yang telah dirancang harus dirombak. Ujian Nasional Berbasis Komputer dan Berbasis Pensil-Kertas malah telah digagalkan. Ketika tulisan ini saya ketik, sudah memasuki hari ke-20 saya sebagai pendidik harus bekerja dan mengajar dari rumah. Sudah beberapa kali pemerintah daerah (Dinas Pendidikan) mengeluarkan surat edaran perpanjangan masa belajar dari rumah. Kegiatan ini pun tidak dapat dilaksanakan secara menyeluruh. Betapa banyaknya peserta didik yang menjadikan belajar di rumah ini sebagai masa libur panjang.
Negara "terseok" menangani covid-19. Anggaran yang digelontorkan pun sudah bukan lagi hitungan kecil. Melalui Perppu, Presiden Jokowi mengumumkan tambahan anggaran penanganan Virus Corona Rp 405,1 triliun. Dengan rincian, sebesar Rp 75 triliun untuk bidang kesehatan, Rp 110 triliun untuk social safety net atau jaring pengaman sosial. Kemudian Rp 70,1 triliun untuk insentif perpajakan dan stimulus KUR. Serta Rp 150 triliun dialokasikan untuk pembiayaan program pemulihan ekonomi nasional. (Sumber: liputan6.com, 1 April 2020).
Selain negara, beberapa instansi swasta (media, komunitas, asosiasi, dan lembaga-lembaga lain) juga turut menggalang dana dan menyalurkan dana dengan berbagai program dalam menangani covid-19 tersebut. Akan tetapi, saya belum menemukan asosiasi pendidikan yang menggalang dana untuk membantu negara dan masyarakat dalam mengurangi beban akibat pandemi yang terus mewabah.
Bagaimana bentuknya?
Aparatur Sipil Negara yang berstatus Pegawai Negeri Sipil dapat melakukan gerakan sedekah 50 ribu rupiah. Dana yang terkumpul bisa dikelola oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau bekerja sama dengan lembaga tertentu yang sudah lebih dulu bergerak dalam membantu pemerintah menangani covid-19 ini. Dari data yang saya kutip di laman BKN, jumlah ASN (Pegawai Negeri Sipil) per Desember 2019 berjumlah 4.189.121 orang. Jika semuanya terpanggil dan sepakat untuk melakukan gerakan 50 ribu rupiah dan dikelola secara profesional, maka bisa mengumpulkan dana sebanyak 209.456.050.000 rupiah. Jumlah yang tidak sedikit. Ini jika 50 ribu rupiah. Akan tetapi, saya yakin, ada beberapa ASN yang ikhlas memberikan sedekah lebih dari jumlah tersebut jika program ini dikelola dengan baik.
Dananya untuk Apa?
Betapa banyaknya kita baca di media, tenaga kesehatan/medis yang menangani pasien covid-19 tanpa alat pengaman diri yang memadai. Kita baca di media, begitu banyak saudara-saudara kita yang terpaksa tinggal di rumah tanpa kepastian kebutuhan sehari-hari. Perusahaan-perusahaan tempat mereka bekerja harus tutup sementara. Mereka tidak punya pekerjaan yang bisa menghasilkan dan membuat dapur tetap berasap. Kita menyaksikan, begitu banyaknya pekerja informal yang susah melanjutkan usahanya. Tetap beroperasi, pelanggan/pembeli minim, ditutup, tidak ada sumber penghasilan yang lain. Inilah salah satu alasan mengapa pembatasan wilayah (lockdown) secara total tidak menjadi opsi terbaik di Indonesia.
Di sinilah rasa kemanusiaan kita diuji. Di sinilah pangkat, jabatan (sebagai ASN) mendapat tantangan. Di sinilah kebermanfaatan kita sebagai abdi negara harus dibuktikan. Mari bekerja sama membantu pemerintah melewati jalan terjal ini untuk kembali menapak jalan mulus demi Indonesia yang kita cintai. Semoga gerakan ini bisa diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (bidang dengan jumlah ASN terbanyak/69,94%) atau Badan Kepegawaian Negara. Jika tidak, semoga bisa diinisiasi oleh BKN Provinsi masing-masing atau Dinas Pendidikan Provinsi. Atau yang lebih kecil, yakni Badan Kepegawaian Daerah (BKD) atau Dinas Pendidikan Kabupaten. Pun jika tidak, paling kecil secara pribadi, marilah bersedekah terhadap orang yang kita kenal, tetangga, atau siapa saja yang sedang terpaksa tinggal di  rumah dan tetap berharap piring bisa kotor setiap hari.
#tetapdirumah
#mariberbuat

Try Relay: the free SMS and picture text app for iPhone.